Sabtu, 27 Februari 2021

IDENTIFIKASI PROBLEMATIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

 


  


 

 

 


IDENTIFIKASI PROBLEMATIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Mata Kuliah    : Pendidikan Bahasa dan Problematiknya

       Dosen Pengampu : Dr. Hj. Ida Zulaeha, M. Hum.

 

 

 

oleh

Nurul Nitasari

0202511023

 

 

 

 

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA S2

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2011

 

PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang

Kontrol siswa masih dirasa cukup sulit di dalam kelas gemuk, terutama kelas yang berjumlah lebih dari 43 siswa per kelas.  Salah satu masalah muncul ketika dilakukan diskusi kelompok. Pada saat diskusi ini, anak lebih suka bercanda dan bercakap-cakap dengan temannya di luar topik diskusi. Hal itu membuat beberapa indikatot tidak tercapai. Terutama untuk keaktifan siswa yang diharapkan.

 

2.    Identifikasi Masalah

Faktor yang memengaruhi keaktifan siswa dalam diskusi pada mata pelajaran bahasa Indonesia ada tujuh komponen, yaitu faktor guru, siswa, tujuan, materi, strategi, media, dan evaluasi.

Komponen yang pertama, yaitu faktor dari guru. Terkadang guru mengangkat topik diskusi yang asing atau kurang menarik bagi siswa, sehingga siswa kurang antusias dalam melakukan diskusi.

Komponen yang kedua, yaitu siswa. Siswa sering kurang konsentrasi terhadap tugas yang diberikan oleh guru karena kondisi kelas yang agak bising. Hal tersebut mengakibatkan hasil belajar yang dicapai kurang maksimal.

Komponen yang ketiga, yaitu tujuan. Pada komponen ini, indikator yang diharapkan belum semuanya tercapai. Maka dari itu, tujuan pembelajaran belum tercapai.  

Komponen yang keempat, yaitu materi. Pemilihan materi yang monoton tanpa adanya variasi akan membuat siswa bosan. Hal ini menjadikan proses diskusi menjadi kurang hidup.

Komponen yang kelima, yaitu strategi. Strategi yang digunakan oleh guru kurang tepat dalam mengelola kelas saat para siswa melaksanakan diskusi. Oleh karena itu, guru perlu mengatur strategi agar tujuan yang diharapkan tercapai.

Komponen yang keenam, yaitu media. Terkadang guru tidak menggunakan media pembelajaran dalam pelaksananaa proses pembelajaran yang dalam hal ini berkaitan dengan proses diskusi. Padahal, keberadaan media sangat penting sebagai sarana untuk memahamkan dan membelajarkan siswa.

Komponen yang terakhir, yaitu evaluasi. Guru jarang mengevaluasi pembelajaran bahasa Indonesia yang dilakukan dengan model diskusi pada pembelajaran sebelumnya, sehingga kekurangan yang ada belum dapat diminimalkan.

 

3.    Pembatasan Masalah

Dari berbagai masalah yang muncul, maka batasan permasalahan yang peneliti bahas adalah mengenai strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru.

 

4.    Perumusan Masalah

Permasalahan yang menjadi bahan pembahasan, yaitu bagaimana membuat siswa lebih aktif dalam melakukan diskusi dalam kelas gemuk?


PEMBAHASAN

 

Dalam belajar aktif, siswa diharapkan dapat menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi dalam diskusi dengan siswa lain melalui pengajuan pertanyaan atau melalui tulisan. Siswa menjadi terlibat dalam kegiatan yang memaksa mereka untuk merenungkan ide-ide dan menggunakan ide-ide yang terkait dengan bidang studi (Bonwell Einson, 1991)

Untuk membelajarkan siswa agar aktif dalam diskusi, salah satunya yaitu harus menggunakan strategi-strategi tertentu. Banyak sekali strategi yang dapat digunakan oleh guru dalam mengelola kelas gemuk. Salah satunya yaitu diskusi kelompok kecil.

Peserta didik dibagi ke dalam kelompok-kelompok  yang terdiri atas tiga peserta atau lebih untuk berbagi informasi. Diskusi kelompok kecil ini digunakan untuk memproses persoalan dan masalah jika memiliki cukup waktu. Ini merupakan salah satu metode kunci untuk mendapatkan partisipasi seseorang ( Silberman 2009:20).

Selama diskusi berlangsung, guru dapat membantu kelompok yang merasa kesulitan terhadap masalah yang dipecahkan. Guru dapat keliling kelas, berkunjung dari kelompok satu ke kelompok yang lain. Hal ini akan membuat guru lebih leluasa mengontrol kelas. Setelah diskusi selesai, tiap kelompok dapat mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas.

Berikut ini merupakan beberapa keuntungan bagi peserta didik ketika melakukan diskusi dengan menggunakan kelompok kecil.

1.    Mengantisipasi siswa yang menggantungkan pekerjaannya pada teman satu kelompok.

2.    Kontrol kelas akan terasa lebih mudah jika dibandingkan dengan menggunakan kelompok besar.

3.    Siswa yang tidak bersedia bekerjasama dengan teman satu kelompoknya akan terlihat, sehingga guru dapat segera mengatasinya.

4.    Gagasan-gagasan yang dihasilkan ketika diskusi berlangsung akan lebih banyak karena jumlah kelompoknya pun banyak.

5.    Tujuan pembelajaran akan mendekati ketercapaian.

            Diskusi kelompok kecil ini dimaksudkan agar  para peserta didik lebih maksimal dalam melaksanakan diskusi.


 

PENUTUP

 

Simpulan

Dari pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, simpulan yang penulis dapatkan, yaitu dalam mengatasi kontrol siswa di kelas gemuk, terutama saat siswa melakukan diskusi terdapat strategi yang dapat digunakan. Salah satunya yaitu dengan membentuk kelompok diskusi dengan kelompok kecil. Diskusi dalam kelompok kecil memiliki beberapa keuntungan untuk membuat siswa lebih aktif.

 

Saran

Adapun saran yang dapat penulis sampaikan, yaitu sebaiknya para guru dapat menggunakan  strategi dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia. Baik dalam kelas gemuk maupun kelas kurus.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Silberman, Mel. 2009. Active Learning : 101 Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani.

Charles C. dan James A. Bonwell Eison, 1991 Pembelajaran Aktif: Membuat Semangat di dalam Kelas, Ashe-ERIC Pendidikan Tinggi Laporan No 1. Washington, DC: The George Washington University (dalam www-ctl.stanford.edu/teach/speak.html diunduh tanggal 21 Agustus 2011)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar