Jumat, 20 Mei 2016

Sinopsis Novel Ronggeng Dukuh Paruk


Sinopsis Novel Ronggeng Dukuh Paruk
karya Ahmad Tohari

      
          Novel ini menceritakan kehidupan atau kisah seorang perempuan yang menjadi ronggeng di dukuh paruk. Gadis itu bernama Srintil. Suasana damai dan gembira melingkupi para pesaing yang memperebutkan ronggeng Srintil. Harumnya keramatnya Ki Secamenggala kembali menyelimuti Dukuh Paruk. Seorang paling bahagia dengan penobatan Srintil sebagai ronggeng adalah Sukarya dan istrinya yang merupakan kakek dan nenek Srintil. Mereka merasa usaha mengasuh Srintil tidak sia-sia, sejak kedua orang tua Srintil meninggal karena keracunan tempe bongkrek sebelas tahun yang lalu. Hingga mereka berhasil untuk menjadikan Srintil sebagai seorang ronggeng direstui oleh keramat dukung ronggeng, Ki Secamenggala.
          Namun seroang pemuda bernama Rasus merasa sangat kecewa dan sedih mendengar penobatan Srintil sebagai ronggeng Dukuh Paruk. Ia sangat mencitai Srintil, kekasihnya itu. Ia beranggapan bila Srintil menjadi ronggeng, berarti Srintil menjadi milik semua orang. Setiap orang bebas meniduri Srintil karena memang begitulah kehidupan menjadi seorang ronggeng, Srintil harus menyerahkan keperawanannya kepada Ki Kertareja, seorang dukun di Dukuh Paruk. Rasus mengetahui bahwa orang yang mendapatkan kesucian Srintil yang pertama adalah Dower dan Sulam. Karena mereka telah memenangkan sayembara yang diadakan Ki Kertareja.
            Pada suatu malam yang sudah ditentukan, Srintil pun dinobatkan menjadi seorang ronggeng Dukuh Paruk. Ketika itu diam-diam Rasus memperhatikan kejadian itu dari jauh. Srintil dibawa ke makam ke Secamenggala untuk dimandikan, setelah dimandikan, Srintil menjalani tahap berikutnya yaitu menjadi budak kelambu menyerahkan keperawanannya kepada orang yang telah memenangkan sayembara itu yaitu Sulam dan Dower pemuda di Dukuh Paruk. Pada malam itu, kedua pemuda malah bertengkar dan saling memperebutkan giliran yang paling berhak meniduri Srintil pertama kali. Rasus, diam-diam mendengar pertengkatan itu, karena ia sempat melihatnya. Tanpa diduga saat Rasus sedang sedih mendengar pertengkaran tadi, tiba-tiba Srintil menghampiri Rasus yang sedang bingung di belakang rumah dukun Kertareja. Srintil mohon pada Rasus agar ia bersedia menggauli dirinya waktu itu. Setelah Rasus selesai menggauli Srintil barulah Dower dan Sulam datang.
       Setelah menggauli Srintil, gadis yang sangat dicintai, Rasus meninggalkan Dukuh Paruk. Dia meninggalkan Srintil, gadis yang paling dicintai sekaligus paling dibenci saat itu, Rasus pun mengasingkan diri di Desa Dawuran, ia memutuskan untuk meninggalkannya dan mengalah serta membiarkan Srintil menjadi milik orang banyak untuk menjadi ronggeng yang membanggakan Dukuh Paruk. Tetapi keputusan itu dan semua peristiwa yang telah terjadi pada diri Srintil justru membuat Srintil menjadi gila pada akhirnya. Srintil stres karena di usianya yang masih dini, ia harus menjadi seorang ronggeng yang harus bersedia menjadi milik banyak orang. Selain itu Srintil juga stres karena ia tidak bisa hidup bersama dan bahagia dengan laki-laki yang sangat disayangi dan dicintainya untuk menjadi ronggeng di Dukuh Paruk.

Sabtu, 14 Mei 2016

PENGORBANAN (SEBUAH CERPEN)


PENGORBANAN
Oleh : Nurul Nitasari

Langit yang cerah tiba-tiba mendung kembali. Rintikan hujan turun dengan derasnya diikuti petir yang menyambar-nyambar. Sepoi angin pun tak mau kalah untuk menunjukkan kehebatannya. Jalanan yang tadinya ramai oleh lalu lalang orang yang berjalan, berubah sepi.

Di pojok tikungan jalan berdiri seorang gadis berambut kepang dua yang cantik paras seperti namanya. Ya, “Ayu” namanya.

“Mbak, kok sendirian?” Tanya seorang pemuda yang sama-sama menunggu hujan reda di dalam poskamling.

“Iya Mas, baru pulang dari les sekolah” jawab Ayu sambil mengusap wajah yang terkena tetesan hujan.

Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, akhirnya Ayu pun tahu pemuda itu bernama “Soni”, seorang pemuda yang kuliah di Jakarta mengambil jurusan hukum.

“Mas, hujan sudah reda,aku pamit pulang dulu ya…”

“Mau tak antar Mbak?”.

“Tidak terima kasih, rumahku di dekat sini kok, paling lima menit sudah sampai” jawab Ayu.

Sesampai di rumah, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

“Ayu, Nduk ke sini bentar” panggil Ibunya.

Mendengar suara ibunda, ia pun bergegar ke ruang tengah.

“Dalem Bu, ada apa?”

“Gini lho Nduk, adikmu si Ihsan ingin dibelikan HP”

“Iya,lantas kenapa Bu?”.

“Uang tabunganmu kalau bisa diambil dulu untuk membelikan HP buat adikmu.”

“Tapi Bu, uang ini nanti buat Ayu kuliah lho.”

“Sudahlah Nduk, kasihan adikmu merengek ingin dibelikan HP.”

Dengan wajah lesu, Ayu pun kembali ke kamar mengambil buku tabungan dan melihat saldo yang tertulis di buku itu. Ternyata, saldo yang tertulis tidak ada sisa jika semuanya digunakan untuk membeli HP.

&…….*…….&

Di sekolah saat matahari mulai meninggi dan udara terasa panas, Ayu dan sahabatnya Atik melihat-lihat pengumuman mengenai PMDK dan ujian masuk perguruan tinggi.

“Gimana Tik, kamu mau daftar di mana?”

“Aku sepertinya tidak melanjutkan Yu. Setelah lulus, rencanaku ingin kerja saja. Lha, kamu gimana?” balas Atik.

“Entahlah Tik, aku sendiri bingung. Ihsan saudara kembarku juga pasti ingin kuliah. Sementara, keluargaku belum punya cukup uang untuk kuliah kami berdua.”jawab Ayu.

Di sela-sela obrolan, terdengar suara lonceng. Mereka pun bergegas menuju kelas. Sembari menunggu Pak Guru, Ayu menghampiri Ihsan yang tengah sibuk mengerjakan PR yang akan dikumpulkan.

“San, nanti malam aku ingin sekeluarga kumpul untuk musyawarah.” kata Ayu dengan suara agak keras.

Entah disengaja ataupun tidak, Ihsan pun diam saja seperti tak mendengar apa-apa. Karena sebal dengan tingkah laku yang seperti itu, Ayu pun meningglkan Ihsan.

&…….*…….&



Hari semakin petang, suara adzan Isya pun berkumandang. Setelah sekeluarga shalat berjamaah, mereka pun kumpul di ruang tengah sambil menonton TV.

“Pak, Bu…Ayu ingin melanjutkan kuliah setelah lulus nanti.” Pinta ayu sambil menundukkan pandang.

“Gini Nduk, karena sesuatu hal, kamu tidak bias kuliah dulu. Mungkin Ihsan dululah yang akan kuliah.”

“Kalau masalah biaya Bu, ayu bisa kuliah sambil kerja kan?”

“Bukan begitu Nduk, setelah lulus nanti kamu akan dinikahkan dengan anaknya Pak Lurah.”

“Tapi kenapa harus secepat itu Bu?” tanya Ayu.

“Keluarga kita terlilit banyak hutang, dan kamulah yang dapat membantu keuangan keluarga kita”

“Aku belum ingin menikah dulu. Aku masih ingin bersama Ayah dan Ibu.”

Kedua orang tua Ayu pun diam saja menanggapi hal tersebut.

“Haruskah ku berlari?

Haruskah ku pasrah dan berdiam diri?

Haruskah ku mengalah ‘tuk kesekian kali?

Haruskah aku…….”kata ayu dalam hati.

&…….*…….&



Pengumuman kelulusan pun tiba, Ayu dan Ihsan pulang ke rumah dengan raut muka yang berbeda.

“Yu, San bagaimana hasil ujian kalian?”

“Kita lulus Bu” jawab mereka serentak.

“Syukurlah kalau begitu. Yu, nanti malam pak Lurah dan keluarganya mau datang ke rumah. Kalian siap-siap Ya!” kata Ibunda.

Keluarga ayu terlilit banyak hutang bukan terhadap keluarga Pak Lurah, tetapi hutang terhadap bank yang disebabkan oleh penipuan jual beli tanah yang dilakukan oleh temannya Pak Agus.

Pak Lurah dan pak Agus dari kecil sudah bersahabat karib. Dan merencanakan untuk menjodohkan anak mereka.

Setelah mengetahui sahabat karibnya terlilit banyak hutang, Pak Lurah ingin membantu Pak Agus dengan menikahkan anak mereka. Anaknya Pak Lurah merupakan pewaris tunggal dari harta peninggalan kakeknya. Dan warisan dari sang Kakek dapat dimiliki sepenuhnya oleh si cucu apabila ia benar-benar telah menikah. Toh, Pak Agus dan pak Lurah memang sudah berjanji akan menikahkan anak mereka.

Mengetahui hal itu, Ayu yang awalnya besikeras tidak ingin menikah muda akhirnya luluh juga. Padahal, ia sudah memiliki “pujaan hati” walaupun hanya bertemu sekali saja.

“Kalau memang jodoh, tidak akan ke mana” pikirnya.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.00 WIB. Dari arah pintu terdengar suara orang mengetuk. Tanpa ragu-ragu, Bu siti ibunda Ayu membukakan pintu.

“Silakan masuk Pak,Bu lurah.” sambut Bu Siti dengan ramah.

“Terima kasih Bu” jawab mereka.

Setelah duduk dan menikmati hidangan yang disdiakan, pak Lurah memperkenalkan anak mereka satu-satunya.

“Lha, Ayu dan Ihsan nya mana Bu?” tanya Bu Lurah.

“Ayu, Ihsan ke sini Nak”panggil Bu Agus.

Setelah mereka bersalaman dengan para tamu, Ayu pun kaget, ternyata calon suaminya adalah sang pujaan hati.

“Mas Soni ‘kan?”sapa Ayu.

“O.Ayu itu kamu?”balas Soni.

“Kalian sudah saling mengenal tho rupanya”sela Pak Lurah.

“Inggih Pak”jawab Ayu.

“Ya sudah kalian dan Ihsan ngobrol-ngobrol dulu saja di ruang tengah”saran Pak Agus.

Ihsan pun pengertian, setelah tiga puluh menit ngobrol bertiga, ia meninggalkan Ayu dan Soni agar keduanya lebih akrab dan saling mengenal pribadi masing-masing sebagai calon suami istri.

Ayu pun bercerita bahwa sebenarnya ia ingin kuliah dulu sebelum menikah. Dan soni pun menegaskan, ia dan Ayu tetap kuliah walaupun sudah menikah nantinya. Mendengar hal itu, Ayu bersyukur sekali.

“Akhirnya ku menemukannya

Saat hati ini mulai merapuh

Akhirnya pengorbanan tak sia-sia

Karena ada dia sang pujaan hati” bisik Ayu dalam hati.

*Selesai*



Rabu, 04 Mei 2016

Curhatku : Ketika ber "Asa"


CURHATKU
1 JANUARI 2015
7:03 PM
End at 02:25 pm 12 Januari 2015


Saat harapan belum menjadi kenyataan, galau memang rasanya. Cita-cita yang selama ini sudah pernah aku utarakan kepada orang-orang terdekat belum terwujud di tahun 2014 kemarin. Tidak bisa dipungkiri sedih memang rasanya. Apa mungkin usahaku kali itu belum maksimal? Ataukah Allah punya rencana lain di balik ini? Namun yang pasti aku akan tetap berusaha di tahun ini, tahun 2015. Mungkin itu suatu kesuksesan atau harapan yang tertunda. Seperti halnya lima tahun yang lalu. Di saat aku ingin melanjutkan kuliahku, ada beberapa faktor yang membuat aku menundanya. Selain harus bekerja dahulu, aku juga kasian melihat orang tuaku jika harus membiayaiku lagi secara full. Paling tidak, kalau aku bekerja dahulu sambil kuliah harapannya memang untuk meringankan beban keduanya. Alhamdulillah kurasakan waktu itu, setelah satu tahun bekerja di madrasah, aku bisa mengatur waktu antara kuliah, bekerja, dan mempersiapkan pernikahanku.
Lulus magister di tahun 2014 kemarin memang tidaklah mudah untuk aku lalui. Dua setengah tahun kujalani dengan penuh perjuangan sampai titik darah penghabisan kalau bisa dikatakan. Memang aku tidak indekos waktu itu. Jumat Sabtu aku usahakan untuk menginap di tempat adik, sepupu, maupun teman-temanku secara bergantian. Aku berpikir, kalaupun aku indekos, kos nya mungkin jarang aku tempati. Hal itulah yang membuat aku tidak menyewa kos.
Sebelum aku membeli laptop sendiri, aku selalu bergantian dengan kedua adikku. Pernah suatu ketika, aku lembur untuk mengerjakan tesis dengan meminjam laptop milik kekasihku. Keesokan harinya sebelum berangkat ke Semarang untuk kuliah, aku mengembalikan ke rumahnya. Kepalaku memang pusing waktu itu karena semalaman tidak tidur untuk menyelesaikan sampai bab III. Usai pamit dengan kekasihku, aku naik motor ke Semarang dengan kondisi sakit kepala dan mengantuk berat. Sesampai di daerah Trengguli Demak, tanpa sadar dan dalam kondisi tertidur, motor yang aku kendarai menabrak mobil pick up yang terparkir di depan sebuah bengkel las. Dalam keadaan sakit dan penglihatan remang-remang kulihat kerumunan orang-orang sudah di depan menolongku. Sempat kulihat pula motor yang aku kendarai dalam keadaan remuk. Aku melihat pula ada yang membawaku dengan sepeda motor ke RS. Alhasil, tangan dan tulang hidungku patah. Hampir total dua Minggu aku dirawat di RS. Aku pun hampir satu bulan tidak berangkat kuliah. Dalam keadaan itu, aku berusaha menitipkan tesisku untuk dibimbingkan ke dosen waliku kepada teman sekelasku Mas Sunu dan Rissa. Dalam keadaan masih belum sembuh benar pula, aku minta tolong kekasihku untuk menemaniku mengantar kuliah dan mengikuti ujian semester.
Kuliah S2 memang penuh dengan perjuangan. Awalnya, aku berencana menikah dengan kekasihku setelah lulus kuliah. Namun, karena berbagai pertimbangan kami memutuskan untuk menikah di waktu aku dalam tahap penyelesaian tesis.
Tidak hanya sekali aku terjatuh dari sepeda motor. Walaupun seperti itu, aku tak mau menyerah untuk menyelesaikan tesisku. Walaupun aku sibuk untuk menyelesaikan tesis ini, tapi kesibukan untuk mencari tambahan pemasukan tetap aku jalani. Pagi mengajar di madrasah, sorenya aku mengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar.
Ribuan terima kasih tidak pernah aku lupakan untuk kedua orang tuaku, suamiku, dan keluargaku yang lain. Terima kasih secara khusus aku sampaikan kepada suamiku. Dialah yang selalu menemaniku siang dan malam dalam penyelesaian tesisku. Sebagai suami istri hubungan kami memang dekat sekali. Selain sebagai suami, ia juga sahabat terbaikku.
Di tahun 2014 kemarin, harapan untuk meraih cita-cita yang aku harapkan sebenarnya sudah dekat. Namun, impian itu belum menjadi kenyataan. Mungkin Allah punya rencana lain dibalik itu semua. Allah menitipkan seorang gadis kecil yang imut dan lucu kepada kami tepat di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, 3 Januari 2014. Ahza Danish Syauqina adalah salah satu anugerah terindah yang pernah kami miliki. Terima kasih Tuhan. Semoga kami dapat menjadi orang tua yang baik baginya. Aamin.

Pendidikan = Investasi


PENDIDIKAN=INVESTASI


Banyak aspek yang perlu dibenahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Aspek dasar yang dapat menjadi aset bangsa ke depan adalah pendidikan. Tidak dapat dipungkiri, pendidikan dapat merubah nasib suatu bangsa menjadi lebih baik. Dengan pendidikan pulalah, segala aspek kehidupan seperti ekonomi, budaya, lingkungan, hukum, politik, olahraga dan lain sebagainya menjadi lebih maju dan berkembang.
Sudah semestinya pemerintah menganggarkan 20% APBN untuk alokasi bidang pendidikan. Pada dasarnya, pendidikan bukanlah suatu anggaran pengeluaran dalam APBN sebab pendidikan merupakan investasi yang nantinya dapat bermanfaat bagi masa depan bangsa.
Pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekadar pertumbuhan ekonomi. Pada praksis manajemen pendidikan modern, salah satu dari lima fungsi pendidikan adalah fungsi teknis-ekonomis baik pada tataran individual hingga tataran global. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif.
Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang, maka tingkat pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan orang yang tidak berpendidikan. Produktivitas seseorang tersebut disebabkan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu, salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup.
Di kalangan masyarakat luas juga berlaku pendapat umum bahwa semakin berpendidikan maka makin baik status sosial seseorang dan penghormatan masyarakat terhadap orang yang berpendidikan lebih baik dari pada yang kurang berpendidikan. Orang yang berpendidikan diharapkan bisa menggunakan pemikiran-pemikirannya yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Orang yang berpendidikan diharapkan tidak memiliki kecenderungan orientasi materi/uang apalagi untuk memperkaya diri sendiri.


Pendidikan sebagai Investasi Sumber Daya Manusia

Pendidikan merupakan salah satu alat untuk menghasilkan perubahan pada diri manusia. Manusia akan dapat mengetahui segala  sesuatu yang sesuai atau belum diketahuinya melalui pendidikan. Pendidikan juga merupakan hak seluruh umat manusia. Namun demikian, hak untuk memperoleh pendidikan harus diikuti oleh kesempatan dan kemampuan serta kemauan diri individu, keluarga dan masyarakat. Dapat dilihat dengan jelas betapa pentingnya peranan pendidikan dalam meningkatkan kualitas SDM agar sejajar dengan manusia lain, baik secara Regional (Otonomi Daerah), Nasional, maupun Internasional (Global).
Pendidikan merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk menanggulangi kemiskinan. Berbagai program dicanangkan untuk memperbaiki SDM melalui pendidikan. Diharapkan pelaksanaan pembangunan pendidikan akan lebih baik dan alokasi dana pendidikan yang sesuai dengan amanat Undang-undang.
Pengembangan SDM adalah proses sepanjang hayat yang meliputi berbagai bidang kehidupan karena pengembangan SDM bukanlah sebatas menyiapkan manusia yang menguasai pengetahuan dan keterampilan yang cocok dengan dunia kerja pada saat ini, melainkan juga manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat. Oleh karena itu memerlukan sumber daya waktu dan keuangan yang cukup besar yang dikenal dengan investasi SDM.  Yang dimaksud dengan investasi adalah mengorbankan aset yang dimiliki sekarang guna mendapatkan aset pada masa mendatang yang tentu saja dengan jumlah yang lebih besar.
Pendidikan dapat dikatakan sebagai proses pemberdayaan, yaitu proses untuk mengungkapkan potensi yang ada pada manusia sebagai individu, yang selanjutnya dapat memberikan sumbangan kepada keberdayaan masyarakat lokal, kepada bangsanya, dan pada akhirnya pada masyarakat global. Dengan demikian pendidikan perlu diarahkan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak didik agar mampu mandiri. Setiap anak didik perlu diberi berbagai kemampuan dalam pengembangan berbagai hal, seperti konsep, prinsip, kreativitas, tanggung jawab, dan keterampilan. Inilah makna pendidikan yang harus senantiasa dipegangi oleh para pendidik, yaitu mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.