Sabtu, 14 Mei 2016

PENGORBANAN (SEBUAH CERPEN)


PENGORBANAN
Oleh : Nurul Nitasari

Langit yang cerah tiba-tiba mendung kembali. Rintikan hujan turun dengan derasnya diikuti petir yang menyambar-nyambar. Sepoi angin pun tak mau kalah untuk menunjukkan kehebatannya. Jalanan yang tadinya ramai oleh lalu lalang orang yang berjalan, berubah sepi.

Di pojok tikungan jalan berdiri seorang gadis berambut kepang dua yang cantik paras seperti namanya. Ya, “Ayu” namanya.

“Mbak, kok sendirian?” Tanya seorang pemuda yang sama-sama menunggu hujan reda di dalam poskamling.

“Iya Mas, baru pulang dari les sekolah” jawab Ayu sambil mengusap wajah yang terkena tetesan hujan.

Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, akhirnya Ayu pun tahu pemuda itu bernama “Soni”, seorang pemuda yang kuliah di Jakarta mengambil jurusan hukum.

“Mas, hujan sudah reda,aku pamit pulang dulu ya…”

“Mau tak antar Mbak?”.

“Tidak terima kasih, rumahku di dekat sini kok, paling lima menit sudah sampai” jawab Ayu.

Sesampai di rumah, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

“Ayu, Nduk ke sini bentar” panggil Ibunya.

Mendengar suara ibunda, ia pun bergegar ke ruang tengah.

“Dalem Bu, ada apa?”

“Gini lho Nduk, adikmu si Ihsan ingin dibelikan HP”

“Iya,lantas kenapa Bu?”.

“Uang tabunganmu kalau bisa diambil dulu untuk membelikan HP buat adikmu.”

“Tapi Bu, uang ini nanti buat Ayu kuliah lho.”

“Sudahlah Nduk, kasihan adikmu merengek ingin dibelikan HP.”

Dengan wajah lesu, Ayu pun kembali ke kamar mengambil buku tabungan dan melihat saldo yang tertulis di buku itu. Ternyata, saldo yang tertulis tidak ada sisa jika semuanya digunakan untuk membeli HP.

&…….*…….&

Di sekolah saat matahari mulai meninggi dan udara terasa panas, Ayu dan sahabatnya Atik melihat-lihat pengumuman mengenai PMDK dan ujian masuk perguruan tinggi.

“Gimana Tik, kamu mau daftar di mana?”

“Aku sepertinya tidak melanjutkan Yu. Setelah lulus, rencanaku ingin kerja saja. Lha, kamu gimana?” balas Atik.

“Entahlah Tik, aku sendiri bingung. Ihsan saudara kembarku juga pasti ingin kuliah. Sementara, keluargaku belum punya cukup uang untuk kuliah kami berdua.”jawab Ayu.

Di sela-sela obrolan, terdengar suara lonceng. Mereka pun bergegas menuju kelas. Sembari menunggu Pak Guru, Ayu menghampiri Ihsan yang tengah sibuk mengerjakan PR yang akan dikumpulkan.

“San, nanti malam aku ingin sekeluarga kumpul untuk musyawarah.” kata Ayu dengan suara agak keras.

Entah disengaja ataupun tidak, Ihsan pun diam saja seperti tak mendengar apa-apa. Karena sebal dengan tingkah laku yang seperti itu, Ayu pun meningglkan Ihsan.

&…….*…….&



Hari semakin petang, suara adzan Isya pun berkumandang. Setelah sekeluarga shalat berjamaah, mereka pun kumpul di ruang tengah sambil menonton TV.

“Pak, Bu…Ayu ingin melanjutkan kuliah setelah lulus nanti.” Pinta ayu sambil menundukkan pandang.

“Gini Nduk, karena sesuatu hal, kamu tidak bias kuliah dulu. Mungkin Ihsan dululah yang akan kuliah.”

“Kalau masalah biaya Bu, ayu bisa kuliah sambil kerja kan?”

“Bukan begitu Nduk, setelah lulus nanti kamu akan dinikahkan dengan anaknya Pak Lurah.”

“Tapi kenapa harus secepat itu Bu?” tanya Ayu.

“Keluarga kita terlilit banyak hutang, dan kamulah yang dapat membantu keuangan keluarga kita”

“Aku belum ingin menikah dulu. Aku masih ingin bersama Ayah dan Ibu.”

Kedua orang tua Ayu pun diam saja menanggapi hal tersebut.

“Haruskah ku berlari?

Haruskah ku pasrah dan berdiam diri?

Haruskah ku mengalah ‘tuk kesekian kali?

Haruskah aku…….”kata ayu dalam hati.

&…….*…….&



Pengumuman kelulusan pun tiba, Ayu dan Ihsan pulang ke rumah dengan raut muka yang berbeda.

“Yu, San bagaimana hasil ujian kalian?”

“Kita lulus Bu” jawab mereka serentak.

“Syukurlah kalau begitu. Yu, nanti malam pak Lurah dan keluarganya mau datang ke rumah. Kalian siap-siap Ya!” kata Ibunda.

Keluarga ayu terlilit banyak hutang bukan terhadap keluarga Pak Lurah, tetapi hutang terhadap bank yang disebabkan oleh penipuan jual beli tanah yang dilakukan oleh temannya Pak Agus.

Pak Lurah dan pak Agus dari kecil sudah bersahabat karib. Dan merencanakan untuk menjodohkan anak mereka.

Setelah mengetahui sahabat karibnya terlilit banyak hutang, Pak Lurah ingin membantu Pak Agus dengan menikahkan anak mereka. Anaknya Pak Lurah merupakan pewaris tunggal dari harta peninggalan kakeknya. Dan warisan dari sang Kakek dapat dimiliki sepenuhnya oleh si cucu apabila ia benar-benar telah menikah. Toh, Pak Agus dan pak Lurah memang sudah berjanji akan menikahkan anak mereka.

Mengetahui hal itu, Ayu yang awalnya besikeras tidak ingin menikah muda akhirnya luluh juga. Padahal, ia sudah memiliki “pujaan hati” walaupun hanya bertemu sekali saja.

“Kalau memang jodoh, tidak akan ke mana” pikirnya.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.00 WIB. Dari arah pintu terdengar suara orang mengetuk. Tanpa ragu-ragu, Bu siti ibunda Ayu membukakan pintu.

“Silakan masuk Pak,Bu lurah.” sambut Bu Siti dengan ramah.

“Terima kasih Bu” jawab mereka.

Setelah duduk dan menikmati hidangan yang disdiakan, pak Lurah memperkenalkan anak mereka satu-satunya.

“Lha, Ayu dan Ihsan nya mana Bu?” tanya Bu Lurah.

“Ayu, Ihsan ke sini Nak”panggil Bu Agus.

Setelah mereka bersalaman dengan para tamu, Ayu pun kaget, ternyata calon suaminya adalah sang pujaan hati.

“Mas Soni ‘kan?”sapa Ayu.

“O.Ayu itu kamu?”balas Soni.

“Kalian sudah saling mengenal tho rupanya”sela Pak Lurah.

“Inggih Pak”jawab Ayu.

“Ya sudah kalian dan Ihsan ngobrol-ngobrol dulu saja di ruang tengah”saran Pak Agus.

Ihsan pun pengertian, setelah tiga puluh menit ngobrol bertiga, ia meninggalkan Ayu dan Soni agar keduanya lebih akrab dan saling mengenal pribadi masing-masing sebagai calon suami istri.

Ayu pun bercerita bahwa sebenarnya ia ingin kuliah dulu sebelum menikah. Dan soni pun menegaskan, ia dan Ayu tetap kuliah walaupun sudah menikah nantinya. Mendengar hal itu, Ayu bersyukur sekali.

“Akhirnya ku menemukannya

Saat hati ini mulai merapuh

Akhirnya pengorbanan tak sia-sia

Karena ada dia sang pujaan hati” bisik Ayu dalam hati.

*Selesai*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar