IDENTIFIKASI
PROBLEMATIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Mata Kuliah : Pendidikan Bahasa dan Problematiknya
Dosen Pengampu : Dr. Hj. Ida Zulaeha, M.
Hum.
oleh
Nurul
Nitasari
0202511023
PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA S2
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
2011
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Kontrol
siswa masih dirasa cukup sulit di dalam kelas gemuk, terutama kelas yang
berjumlah lebih dari 43 siswa per kelas.
Salah satu masalah muncul ketika dilakukan diskusi kelompok. Pada saat
diskusi ini, anak lebih suka bercanda dan bercakap-cakap dengan temannya di
luar topik diskusi. Hal itu membuat beberapa indikatot tidak tercapai. Terutama
untuk keaktifan siswa yang diharapkan.
2.
Identifikasi
Masalah
Faktor
yang memengaruhi keaktifan siswa dalam diskusi pada mata pelajaran bahasa
Indonesia ada tujuh komponen, yaitu faktor guru, siswa, tujuan, materi,
strategi, media, dan evaluasi.
Komponen
yang pertama, yaitu faktor dari guru. Terkadang guru mengangkat topik diskusi
yang asing atau kurang menarik bagi siswa, sehingga siswa kurang antusias dalam
melakukan diskusi.
Komponen
yang kedua, yaitu siswa. Siswa sering kurang konsentrasi terhadap tugas yang
diberikan oleh guru karena kondisi kelas yang agak bising. Hal tersebut
mengakibatkan hasil belajar yang dicapai kurang maksimal.
Komponen
yang ketiga, yaitu tujuan. Pada komponen ini, indikator yang diharapkan belum
semuanya tercapai. Maka dari itu, tujuan pembelajaran belum tercapai.
Komponen
yang keempat, yaitu materi. Pemilihan materi yang monoton tanpa adanya variasi
akan membuat siswa bosan. Hal ini menjadikan proses diskusi menjadi kurang
hidup.
Komponen
yang kelima, yaitu strategi. Strategi yang digunakan oleh guru kurang tepat
dalam mengelola kelas saat para siswa melaksanakan diskusi. Oleh karena itu,
guru perlu mengatur strategi agar tujuan yang diharapkan tercapai.
Komponen
yang keenam, yaitu media. Terkadang guru tidak menggunakan media pembelajaran
dalam pelaksananaa proses pembelajaran yang dalam hal ini berkaitan dengan
proses diskusi. Padahal, keberadaan media sangat penting sebagai sarana untuk
memahamkan dan membelajarkan siswa.
Komponen
yang terakhir, yaitu evaluasi. Guru jarang mengevaluasi pembelajaran bahasa
Indonesia yang dilakukan dengan model diskusi pada pembelajaran sebelumnya,
sehingga kekurangan yang ada belum dapat diminimalkan.
3.
Pembatasan
Masalah
Dari
berbagai masalah yang muncul, maka batasan permasalahan yang peneliti bahas
adalah mengenai strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru.
4. Perumusan Masalah
Permasalahan yang menjadi
bahan pembahasan, yaitu bagaimana membuat siswa
lebih aktif dalam melakukan diskusi dalam kelas gemuk?
PEMBAHASAN
Dalam
belajar aktif, siswa diharapkan dapat menganalisis, mensintesis, dan
mengevaluasi informasi dalam diskusi dengan siswa lain melalui pengajuan
pertanyaan atau melalui tulisan. Siswa menjadi terlibat dalam kegiatan yang
memaksa mereka untuk merenungkan ide-ide dan menggunakan ide-ide yang terkait
dengan bidang studi (Bonwell Einson, 1991)
Untuk
membelajarkan siswa agar aktif dalam diskusi, salah satunya yaitu harus
menggunakan strategi-strategi tertentu. Banyak sekali strategi yang dapat
digunakan oleh guru dalam mengelola kelas gemuk. Salah satunya yaitu diskusi
kelompok kecil.
Peserta
didik dibagi ke dalam kelompok-kelompok
yang terdiri atas tiga peserta atau lebih untuk berbagi informasi.
Diskusi kelompok kecil ini digunakan untuk memproses persoalan dan masalah jika
memiliki cukup waktu. Ini merupakan salah satu metode kunci untuk mendapatkan
partisipasi seseorang ( Silberman 2009:20).
Selama
diskusi berlangsung, guru dapat membantu kelompok yang merasa kesulitan
terhadap masalah yang dipecahkan. Guru dapat keliling kelas, berkunjung dari
kelompok satu ke kelompok yang lain. Hal ini akan membuat guru lebih leluasa mengontrol
kelas. Setelah diskusi selesai, tiap kelompok dapat mempresentasikan hasil
diskusi ke depan kelas.
Berikut
ini merupakan beberapa keuntungan bagi peserta didik ketika melakukan diskusi
dengan menggunakan kelompok kecil.
1. Mengantisipasi
siswa yang menggantungkan pekerjaannya pada teman satu kelompok.
2. Kontrol
kelas akan terasa lebih mudah jika dibandingkan dengan menggunakan kelompok
besar.
3. Siswa
yang tidak bersedia bekerjasama dengan teman satu kelompoknya akan terlihat,
sehingga guru dapat segera mengatasinya.
4. Gagasan-gagasan
yang dihasilkan ketika diskusi berlangsung akan lebih banyak karena jumlah
kelompoknya pun banyak.
5.
Tujuan pembelajaran
akan mendekati ketercapaian.
Diskusi kelompok kecil ini
dimaksudkan agar para peserta didik
lebih maksimal dalam melaksanakan diskusi.
PENUTUP
Simpulan
Dari
pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, simpulan yang penulis dapatkan,
yaitu dalam mengatasi kontrol siswa di kelas gemuk, terutama saat siswa melakukan diskusi terdapat strategi yang
dapat digunakan. Salah satunya yaitu dengan membentuk kelompok diskusi dengan
kelompok kecil. Diskusi dalam kelompok kecil memiliki beberapa keuntungan untuk
membuat siswa lebih aktif.
Saran
Adapun
saran yang dapat penulis sampaikan, yaitu sebaiknya para guru dapat menggunakan
strategi dalam melaksanakan pembelajaran
bahasa Indonesia. Baik dalam kelas gemuk
maupun kelas kurus.
DAFTAR
PUSTAKA
Silberman, Mel. 2009. Active Learning : 101 Pembelajaran Aktif.
Yogyakarta : Pustaka Insan Madani.
|
Charles
C. dan James A. Bonwell Eison, 1991 Pembelajaran Aktif: Membuat Semangat
di dalam Kelas, Ashe-ERIC Pendidikan Tinggi Laporan No 1. Washington, DC:
The George Washington University (dalam www-ctl.stanford.edu/teach/speak.html
diunduh tanggal 21 Agustus 2011)
|
|
|
|
|
|
|